Selamat datang.. di Prayasa Photography.
Wedding/pre wedding photography di Bali bukanlah suatu hal yang baru, karena Bali terkenal akan keindahan tempatnya serta budayanya yang memikat.. sehingga untuk membuat foto pre wedding serta menikah di Bali pun kini telah menjadi suatu keharusan bagi calon pengantin dan saya ingin membantu mewujudkan impian Anda melalui lensa kamera. Beberapa portfolio foto dapat dilihat di galeri, dan untuk informasi lebih lanjut silahkan isi contact fom.![]() |
![]() |
![]() |
Jero Puspa nama ibuku..
Di sudut teras semua rumah yang terletak di Desa Pakraman Padangsambian, terlihat Gung De dan sepupunya (Tonny) yang lagi liburan di Bali sedang asyik browsing dengan laptopnya ditemani sang Bapak yang sedang konsen dengan koran Bali Postnya.
“Kriiinngggg..” telp rumah berbunyi. Gung De masuk ke dalam, kemudian kembali ke luar memanggil ibunya. “Bu.. katanya mau ngomong sama Jero Puspa..” Sang ibu sedari tadi ada di bale gede sibuk dengan janurnya bergegas ke dalam rumah.
“Jero Puspa itu siapa?” Tonny si sepupu sedikit bingung. “Jero Puspa itu yach namanya Ibu..” sahut Gung De.
“Lha bukannya tante namanya Ni Nyoman Sulastri? Jero Puspa itu nama kecil yach? kayak panggilan gitu..” sambung Tonny yang hanya lahir Bali.. tapi semenjak SD harus pindah ke Jakarta. “Bukannnn.. Jero Puspa itu nama yang ‘di-hadiah-kan’ ke Ibu saat menikah sama Ajik. Karna ibu dari Tabanan dan orang biasa.. bukan orang Gusti/Anak Agung.. makanya ibu harus menyesuaikan diri dengan ganti nama. Katanya sich naik peringkatnya” jawab Gung De dengan air muka tidak yakin.
“Itu ada benernya.. cuman ada salahnya juga” sambung Bapak Agung sambil melipat korannya tanda selesai membaca. “Memang bener kalo nama Jero Puspa diberikan untuk Ibumu saat menikah dengan Ajik. Memang di Bali.. khususnya jaman Ajikmu menikah dahulu, 20 tahun yang lalu.. dan mungkin sampai sekarang masih berlaku sistem ini. Tapi baru beberapa tahun belakangan ini, orang Bali sudah menyadari bahwa tidak ada kasta di Bali. Kasta adalah kesalahkaprahan yang berkepanjangan. Dahulu.. orang-orang begitu pasrahnya dan seakan menikmati dengan sistem tingkatan itu, tanpa mau peduli bagemana impactnya terutama bagi yang mengalaminya.”
Terdengar gumaman Tonny yang mulai penasaran “Hmm.. trus klo ngga ada Kasta. Yang ada apa donk Jik Gung? Emang jadi Jero itu tidak enak yach?” tanya Tonny semakin penasaran.
Bapak Agung mengangkat cangkir kopi di hadapannya seraya meminumnya. “Bener Ton. Yang ada di Bali itu adalah Warna dan Wangsa bukan Kasta. Warna itu adalah pembagian tingkatan manusia menurut profesinya. Ada Brahmana, Ksatria, Wesya dan Sudra. Kamu khan sudah diajar di pelajaran agama waktu SD/SMP. Setiap orang akan menempati posisi dari ke-empat golongan yang ada.. dan bisa juga menempati lebih dari satu golongan. Misalnya Bapakmu yang kerjanya sebagai polisi dan pengusaha itu.. dia bisa disebut sebagai seorang Ksatria dan Wesya.”
“Dan kalo Wangsa adalah kelompok/golongan yang kamu dapat di tempat kamu dilahirkan. Contohnya kamu terlahir di Desa Padangsambian, leluhur kamu itu berasal dari Puri Pemecutan Denpasar. Dan wangsa kamu adalah Arya Kenceng. Intinya kamu harus tau asal usulmu dan siapa leluhurmu.”
Ibu Nyoman yang mendengar perbincangan mulai serius datang dengan sepiring pisang goreng. “Ini Ibu kasik pisang goreng biar lancar diskusinya.”
“Trus maksud nama Jero itu apa donk Jik Gung?” lanjut Tonny menyambut pisang goreng dengan cepatnya.
“Iya juga Jik. Bali itu identik dengan budayanya. Mulai dalam kandungan, lahir dan mati pun ada upacaranya. Dan pemberian nama ke seorang bayi itu klo ngga salah juga ada bantennya. Kok saat Ajik menikahi Ibu, kok Ibu dapet bonus nama sich?” kata Gung De yang lebih dulu menguyah pisang gorengnya.
“Bener banget. Nama itu adalah sakral. Nama akan memberikan jiwa pada individunya. Dengan pemberian nama yang baik serta diupacarai diharapkan nantinya menjadi anak yang Suputra (Su=baik, putra=anak) yang berbakti pada orang tuanya. Jero mungkin bisa diartikan dalem.. orang dalem/orang terdekat, Puspa itu berarti bunga. Mungkin diibaratkan ibumu itu orang terdekat yang cantik dan harum semerbak.. hehehe” kata Bapak Agung tersenyum sambil merilik istrinya.
“Aaahhh Ajik bisa ajah. Lha ibu dari kecil udah punya nama Ni Nyoman Sulastri pemberian Kakek. Kok diubah lagi menjadi Jero Puspa?” tanya Gung De. “Itu bener juga. Sampai saat ini belum ada literatur yang Ajik baca tentang pemberian nama Jero itu. Mungkin dulu ada manfaatnya, namun perkembangan jaman akhirnya menghilangkan maknanya. Dan yang diwariskan adalah budaya tingkatan Kasta-nya. Yang katanya Jero itu adalah pemberian nama ke wanita yang tingkatannya naik karena menikahi pria yang tingkatannya di atas, ataupun ada juga ke wanita yang tingkatannya di atas menikahi pria yang tingkatannya di bawah.. sering disebut nyerod.”
“Ini sudah rancu sekali. Dan biasanya wanita yang memiliki predikat Jero, di beberapa daerah mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan. Mulai dari berbahasa Bali yang lebih halus ke keluarga suami sedangkan si Jero mendapat jawaban bahasa yang biasa.. sampai tidak boleh mebanten kalau belum punya anak, dll-nya. Tapi syukurlah tidak semua mengalami hal seperti itu termasuk Ibumu yang tidak pernah mendapat perlakuan yang aneh-aneh dari keluarga besar di sini”.
“Sayang sekali orang harus diblok-blok dan diberikan nama khusus serta menerima perlakuan berbeda. Semestinya, kita harus hormat pada semua orang dan selalu bertutur bahasa yang sopan. Dan nama depan I Gusti, Anak Agung, atau Ida Bagus itu adalah sama.. tidak ada yang patut dibanggakan karena hanya sebuah nama. Orang tetap lebih menilai kita dari sikap dan pemikiran, bukan sepenggal nama.”
“Dan yang paling penting, di mata Tuhan kita adalah sama. Contohnya di pura tidak ada pelinggih khusus anak agung/gusti/ida bagus. Semua diperlakukan sama. Dan dengan mem-lestari-kan nama Jero berarti kita setuju ‘orang itu naik tingkatannya’.. yang secara tidak langsung kita menyetujui adanya Kasta. Ini yang salah tetapi orang-orang ngga mau merubah karena ‘nak mule keto’ (dari dulu sudah begitu adanya..)” sambung Bapak Agung.
“Dan yang jelas di UU Perkawinan no 1 th 1974, sahnya suatu perkawinan adalah sesuai hukum agama masing-masing. Tidak ada diatur tentang perubahan tingkatan individu setelah mengalami pernikahan.”
“Misalnya seorang wanita Dayu bersaudara sendiri menikahi pria yang bukan ida bagus dan mereka tinggal di rumah Dayu itu.. apakah bisa?” tanya Gung De. “Bisa saja De. Emang apanya yang salah? Asalkan mereka saling cinta.. dan tanpa paksaan. Tapi tentu akan berdampak kepada kehidupan sosial mereka, karena kita sadari budaya Kasta masih melekat.”
“Karena sudah mengakar sejak lama, sistem Kasta, urusan pernikahan di Bali sampai penamaan Jero menjadi suatu dilema. Banyak yang ingin merubahnya, tetapi Ajik yakin tidak akan bisa instant.. butuh waktu yang lama.. tergantung orang Balinya sendiri. Makanya mulailah dari diri sendiri dan lingkungan kecil kita. Apa yang baik dan punya bermakna demi perkembangan budaya Bali harus dilestarikan, begitu juga sebaliknya.” jawab Bapak Agung sembari menghabiskan kopinya.
“Bener tuh Jik Gung. Bali yang dikenal dengan keragaman budayanya justru jangan sampe merugikan orang lain atau orang Balinya sendiri. Blon lagie.. sering kita jumpai tindakan diskriminasi yang berpatokan pada uang semata. Lama-lama budaya Bali akan hilang diporotin sama jaman. Trus Bali mau hidup dari apa? lawong tanah udah habis dijual, en jatah gawean yang enak cuman di pariwisata.. klo pemandangan di Bali tidak indah lagi dan budayanya udah hancur.. maka habislah semua..” kata Tonny seraya menikmati pisang goreng terakhir dan men-shut-down laptopnya.
“Yang penting berbuatlah.. daripada tidak sama sekali. Ngomong-ngomong Ajik mau mandi dulu. Ada sangkep (baca=rapat) di banjar” tutup Bapak Agung menyudahi obrolannya.
15 Comments »
RSS feed for comments on this post. TrackBack URL







Wahh…keren tulisannya Kak…
Udah kayak penulis prof nih…
Lanjut terusss…Bravo kak…
Comment by Adi Blue — April 5, 2008 @ 3:36 am
@ Adi Blue: kanggiang bli Ketut.. nak iseng2 ne. Masih pemula nih soal nulis2..
Comment by Wahyu — April 5, 2008 @ 3:45 am
Bli Gung … bagaimana dengan sebutan ‘Jero” untuk Jero Balian .. apa ada hubungannya juga dengan kenaikan pangkat atau sebagainya ?
Arie’s last blog post..Flashback
Comment by Arie — April 5, 2008 @ 4:32 am
@ Arie: soal Jero Balian.. saya juga ngga tau tuh.. tyang ngga pernah baca sumber yg jelas… maklum masih pemula soal beginian.
Tapi utk menjadi Balian (yang biasanya mengobati) yang harus mengganti nama aslinya.. sama seperti halnya “pelantikan” Ida Padanda.. ada upacara khusus.. seperti “terlahir kembali”. Itu proses pemberian “nama baru”. Tapi tingkatan di mata Tuhan tetep sama… apalagi kenaikan pangkat.. ngga ada kayaknya.
Yang ada adalah beban/tugas dan tanggung jawab..
ini cuman sebatas oponi saya.. heheheh
Comment by Wahyu — April 5, 2008 @ 4:47 am
suksma atas penjelasannya, kadang saya sering rancu juga, gara2 tulisan ini saya jadi mengerti……suksma bli
Comment by bayugunadharma — April 6, 2008 @ 2:32 am
@ bayugunadharma: suksma sudah mampir en sempet2in baca bli.. kenken kabare? sibuk dengan klien yach? hehehhe
Comment by Wahyu — April 6, 2008 @ 3:03 am
kweeereeenn ulasannya bli…
lanjutttttt…
*jadi ngefans ama Ajik Gung.. :)*
Yanuar’s last blog post..Keberuntungan
Comment by Yanuar — April 8, 2008 @ 2:18 am
@ Yanuar: suksma bli sudah mampir… nanti tyang sampaikan sama Bapak Agung nya… kekekkeke
Comment by Wahyu — April 8, 2008 @ 11:32 am
waaah, keren bgt tulisannya. runut. bertutur. mengalir lancar. trnyata mnjelaskan sesuatu lewat cerita mmg lbh mudah dimengerti. saludos..
anton’s last blog post..Blogku pun Naik Kasta
Comment by anton — April 8, 2008 @ 5:35 pm
@ Anton: thx sudah berkunjung bli..
Comment by Wahyu — April 8, 2008 @ 7:56 pm
bagus cerpennya… heuheuhe…
Comment by Putu yasa — April 9, 2008 @ 8:20 am
@ Putu Yasa: suksma bli… hehehhe
Comment by Wahyu — April 9, 2008 @ 8:34 am
Pak Wahyu.. gimana dengan kata “Jero” yg ada di pasar2.. dipakai kalau org mau melintas..
misal nya:
“jero.. jero.. awas.. yeh kebus.. yeh kebus.. mingir jero.. jero..”
he he..
T.
Comment by Tonny yg asli — April 21, 2008 @ 5:16 am
mimih..boss kenken kabare ne?? dadi guru jani ae?? hebat perkembangane puk..be meningkat dadi penulis cerpen. malah cerpennya menyerap aspirasi kehidupan anak bali. N bisa membuka wawasan kita kita yang hidup uli cenik di seberang.
pizz boss
Comment by lionk — May 23, 2008 @ 5:40 am
@ Lionk: hehehhehe… nak iseng ne Pak De… kenken kabare? jeg ilang seng taen ado kabar..
Comment by Wahyu — May 23, 2008 @ 8:40 am